Maafkan Ibu, Anakku
Saat kelopak matamu terbuka, yang kau panggil adalah inangmu
Saat matamu kan terpejam, yang kau cari inangmu
Itu salahku nak…,hari-harimu memang selalu bersamanya.
Saat kau senang, marah dan sakit, inanglah yang berada disisimu
Ibumu adalah mesin pencetak uang, pergi pagi – pulang petang,
Ia tak sempat bercanda denganmu, atau mendengar keluh-kesahmu
Tumbuh-kembangmu dipantau dengan teori dan panduan serta laporan
Bukan pengalaman langsung yang mendebarkan
Wajah kita memang mirip, namun ucap-lakumu adalah
Cermin asuhan dan lingkungan
Keringat dan darahku memang mengalir di tubuhmu
Namun sentuhan dan kasih sayang inangmu selalu kau dapatkan
Maafkan Ibu, anakku
Kerna krida, kuabaikan hakmu
Kulimpahi kau dengan buku, mainan, makanan dan baju
Namun itu tak dapat menggantikan jatah waktumu dariku
Kuajak kau bepergian di akhir pekan, namun kau kehilangan hari-harimu bersamaku
Asi yang seharusnya menjadi sari tubuhmu tlah kuganti dengan formula
Tangan yang seharusnya menyuapi, dan memandikanmu, tlah mengabaikan tugasnya yang mulia
Semoga kelak engkau dapat mengerti anakku,
Dosa besar dan dosa kecil ibumu adalah demi kamu juga
TUJUH
Ya Tuhan…
Seminggu tujuh hari dosa hamba tak terlewatkan
Tujuh purnama aib melekat erat
Tujuh tahun khilaf seakan tak terampunkan
Tujuh lapis kebodohan menjadi sahabat hamba
Malas dan lemah mendarah daging bak warisan tujuh turunan
Iri dan dengki seluas tujuh lautan
Jahat dan melarat seolah tujuh suratan nasib
Tuhanku….
Setiap insan ingin kebaikan dan kemuliaan
Tujuh macam bau dan harum berbaur dalam kemanusiaan
Hamba yakin pintu maafMu teramat lebar
Kasih sayang Mu tiada batas
LindunganMu untuk semua
Engkaulah Yang Maha mengetahui
Maha Perkasa dan Bijaksana
Apapun bagi Mu adalah mudah
Yang mengabulkan semua permintaan