Sejak kami menempati rumah C1, ada kucing yang disayangi Ari . Kucing itu sebetulnya dibuang pemiliknya di persimpangan jalan dan diambil oleh tetangga kami. Karena Ari ingin memilikinya, maka kucing yang baru beberapa hari dilahirkan itu kami rawat dengan memberinya susu.
Waktu kucing itu masih kecil, Ari tidak membolehkannya main di luar rumah terlalu lama, karena khawatir dikejar anjing. Kalau ia akan pergi ke sekolah, maka kucing harus ada di dalam rumah. Cukup sulit juga kami mengejar kucing kecil yang berlari-lari di halaman.
Ayahnya Ari kadang-kadang merasa kasihan melihat kucing yang dikurung di dalam rumah, maka kucing dibebaskan bermain di luar. Si kucing, seperti yang mengerti, ketika melihat Ari pulang sekolah dari kejauhan dia akan segera berlari masuk ke rumah dan berbaring di kursi. Ari senang melihat kucing menunggunya dan akan mengelus-ngelus kucing itu. Jika bangun tidur, maka yang Ari tanyakan adalah kucing kuningnya.
Setelah delapan bulan kucing bersama kami, seorang teman memberi kami kucing Persia berwarna abu-abu, berusia satu tahun. Kedua kucing kami ternyata akur, malah seringkali tampak bercengkerama. Namun, dalam hal makanan mereka berbeda, kucing Persia hanya mengonsumsi makanan khusus dari toko, sedangkan kucing kuning memakan apa saja yang kami sediakan, misalnya nasi goreng, ikan atau jagung manis mentah.
Kucing kuning menurut kami sangat cerdas, ia tahu kalau dimarahi agar tidak tidur dekat kami, jadi dia mencari lokasi tempat tidur yang nyaman, yaitu diatas ranjang tingkat kami. Karena ke dua kucing tersebut sudah cukup besar, maka kami biarkan bermain di luar seharian. Jam 20:00 akan dipanggil dengan cara menggoyangkan tempat makanan kucing Persia. Mendengar suara tersebut mereka akan berdatangan untuk makan dan tidur di tempat masing-masing. Jam 4 pagi mereka dikeluarkan, biasanya langsung buang air kecil dan besar di halaman. Kucing kuning cepat sekali jika dipanggil, namun kucing abu-abu cukup lama karena berjalannya sangat pelan. Karena kami anggap cerdas kadang kucing kuning pernah kami biarkan tidur di luar, yaitu ketika gerhana bulan 10 Desember 2011, malam tahun baru serta ketika kami tidak tidur di rumah. Sepertinya kucing merasa senang tidur di dalam rumah, karena tidak kehujanan dan keanginan.
Kucing-kucing kami sangat berani melawan anjing yang lewat walaupun badan mereka lebih kecil tetapi bernyali besar. Tentu saja aku akan memanggil kucing karena khawatir diserang anjing. Pernah si kuning mengikutiku ke kantor yang jaraknya sangat dekat dari rumah (2 menit berjalan) dan diikuti anjing. Kucing kamipun menaiki pohon untuk menghindari anjing. Karena kucing tidak turun juga akhirnya anjing pergi. Ternyata anjing kembali lagi bersama teman wanitanya, lucu juga melihat dua ekor anjing menunggui kucing di atas pohon. Tentu segera kuusir anjing itu agar kucing dapat turun dari atas pohon.
Seminggu sekali kucing kami mandikan dengan shampoo kucing. Kucing Persia sangat mudah karena penurut, sedangkan kucing lokal suka mencakar dan sulit diatur. Setelah dikeramasi, bulu kucing Persia biasanya akan dikeringkan dengan “hair dryer”, sedang kucing dibiarkan saja.
Kucing kuning suka mengikuti kami ke warung atau ke tempat lain. Kadang ia lari mendahului, seolah diajak bermain. Kucing kelabu bisanya mengeong perlahan jika di pagi hari dia lapar atau ingin ke luar rumah, ia jarang mendekati kami seperti halnya kucing kuning, yang terkadang ingin di elus-elus.
Tidak hanya cerdas, kucing kuning juga nakal. Dia bisa membuka kulkas dan mengambil makanannya, mungkin karena kurang rapat ditutup. Kalau menemukan binatang kecil yang bergerak, kucing kuning senang mempermainkannnya dan membawanya ke dalam rumah, diantaranya cecak dan kadal. Maka ketika ia bermain dengan anak ular, aku segera menutup pintu agar kucing tidak masuk dan membuang ular tersebut jauh-jauh.
Seperti teman atau anggota keluarga, kami akan merasa kehilangan jika tidak melihat kucing-kucing kami. Kami merasa kasihan kalau kucing sakit atau kelaparan